Terlihat seorang gadis sedang berjalan. Seorang siswi tahun akhir kelas akselerasi sebuah SMA di Tangerang. Hitam manis. Matanya indah. Alisnya lentik. Bibirnya tipis. Tapi selain wajah dan kedua tangannya, tak ada lekuk dan rupa lain yang bisa dilihat. Rambut indahnya ditutupi jilbab. Lekuk tubuhnya terlindung dari pandangan dengan baju longgar yang cantik. Kaki jenjangnya tersembunyi oleh rok atau celana panjang longgar. Bahkan telapak kakinya tersimpan di balik kaos kaki. Gadis manis itu bernama Hania.
############
Zia, Kak Rasya juga di FTI ITB ya?
Iya. Kenapa Sayang?
Aku juga pengen nyusul dia deh. Seru kayaknya kuliah.
Ayo Nona, kamu pasti bisa. Aku masih setahun lebih lagi untuk kuliah.
Doain aku ya Cantik.
Selalu.
############
Malam ini, ia sedang berbaring di ranjang. Ia bergerak-gerak gelisah. Seperti ada yang mengganggunya. Matanya yang indah berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar. Hati dan pikirannya saling mendebat.
Hei. Jangan masukkan dia ke salah satu ruanganmu.
Jangan salahkan aku. Aku pun tak mau. Ia menyusup tanpa diketahui. Dan tiba-tiba ia sudah memegang kunci salah satu ruanganku.
Bah! Bagaimana aku bisa bekerja dengan seharusnya?
Aku pun tak tahu.
Kamu terus menerus mengirim sinyal kepadaku. Dan aku mau tak mau terus memvisualisasikan dia. Kirimkan pesan pada adikmu, Si Hati Kecil, untuk meyadarkan Hania. Dia sedang menghadapi masa-masa sulit. Dan kita, tentu tak mau melihatnya gagal.
Baik. Akan kucoba.
############
“Woy! Hania, nanti ke LIA kan?”.
“Iya,”.
Di LIA, awalnya semua berjalan seperti biasa. Sampai seseorang muncul.
“Hai Hania,”.
Attar namanya. Dan degupan jantung menjadi semakin kencang.
“Hai Tar,”.
Hei, hei. Kamu. Lagi-lagi kamu mengirimkan sinyal itu. Sekarang saatnya belajar. Aku tak bisa bekerja.
Hm, ada orang itu. Tentunya aku akan terus mengirimimu sinyal selama beberapa jam ke depan.
############
“Hei Hania. Perhatikan kalau Ibu sedang mengajar,”.
“Eh, oh. Maaf Bu. Saya sedang tidak enak badan,”
“Oh, ya sudah. Kamu ke UKS saja,”.
“Nggak Bu. Sebentar lagi juga baikan,”.
Oke, pertama. Dia sampai melamun.
Ya, ya. Dan kedua, dia berbohong pada guru. Hania sedang memikirkan Attar.
Ah, keadaan makin memburuk dari hari ke hari. Bagaimana? Sudah kau sampaikan pesanku untuk adikmu?
Sudah, tapi dia berkata. Akan tiba saat yang tepat. Tunggulah waktunya.
############
“Adriana, aku mau bicara,”
“Apa?”
“Kamu tau siapa yang kusuka?”
“Hah? Siapa? Siapa?”
“Teman sekelas kita di LIA. Attar,”
“Serius?”
“Iya. Kamu pikir aku bercanda? Aku aja malu banget untuk bilang ke kamu”
“Haha. SMA memang masa yang penuh kenangan ya?”
“Adriana, jangan menggodaku,”
############
Catatan harian Hania
Tanpa kumau, dia telah memegang kunci hatiku. Tanpa kutahu, dia telah memasukinya. Tanpa kusadari, dia telah menguasainya. Tapi aku hanya bisa melihatmu. Mendengar suaramu. Aku tak ingin mendekat. Jantungku berdetak semakin kencang. Nafasku menjadi sesak bila di dekatnya.
Sesungguhnya, aku tak mau. Aku tak mau. Aku tahu, ini salah satu masa ujianku. Dan aku tak ingin gagal. Tidak. Aku harus bisa memberi yang terbaik untuk orang tuaku. Menjadi contoh untuk adikku. Tak terbayangkan untukgagal. Senyum di wajah mereka akan memudar. Dan itu bagai belati yang menikamku. Sakit. Aku sakit melihat mereka bersedih.
############
“Hania. Kamu dipanggil Bu Destria di ruang BK,”
“Oh, iya. Terima kasih.”
############
“Hania, kamu sedang ada masaah?”
“Memang kenapa Bu?”
“Ibu lihat nilai kamu menurun. Dan Ibu dapat laporan dari banyak guru kalau kamu suka melamun saat pelajaran. Dan tidak terlihat bersemangat,”
“Maaf Bu,”
“Kamu jangan minta maaf ke Ibu. Ibu hanya ingin yang terbaik bagi siswa-siswa di sini. Kamu siswa aksel. Kamu tahu kan? Tidak ada waktu untuk bermain-main. Nanti, setelah kamu lulus SMA. Sudah diterima di PTN, kamu boleh bermain. Tapi untuk saat ini, tolong fokus dulu untuk belajar. Kamu nggak mau gagal kan?”
“Iya Bu. Terima kasih,”
Mudah untuk berkata. Beliau tak tahu rasanya. Aku juga tak mau. Tapi bagaimana? Dia mengambil alih pikiranku.
Hei, Hati. Mulai lagi.
Ini maunya. Bukan mauku.
Hania, Hania. Kamu pikir dia tak pernah berada di posisimu? Beliau juga pernah remaja. Beliau juga pernah mengalami masa SMA. Tapi dia sekarang sudah menjadi gurumu. Itu bukti bahwa dia sukses menjalani masa-masa ini.
Ya, ya, ya. Mengapa setan selalu saja datang pada saat yang gawat.
############
“Hei Attar. Mau ikut nggak? Kita, satu kelas LIA, besok mau ditraktir sama Adriana. Hari ini dia 17 tahun. Ikut?”
“Boleh nih? Besok lagi nggak ke mana-mana soalnya,”
“Makin ramai, Adriana,”
“Makin ramai, makin seru. Besok ya. Ahad, 14.00,”
“Oke Adriana,”
“Kenapa kamu ajak Attar, Adriana?
“Kenapa? Dia sekelas di LIA sama kita. Kenapa nggak boleh?”
“Oh iya, aku lupa. Kamu suka sama dia ya. Hm, aku sengaja. Biar kamu bisa ketemu di hari lain selain LIA. Hehe,”
“Adrianaaaaa…!”
############
Waktu terlalu cepat berlalu. Tanpa terasa, Maret dan April pun tiba. Maret dan April merupakan bulan khusus bagi semua siswa kelas XII, tak terkecuali Hania. Maret adalah waktu ujian seleksi masuk ITB tahap pertama. Sementara April adalah waktu pengumuman siswa-siswa yang lulus. Bagi yang diterima, tentu mereka akan berlega hati. Beban mereka berkurang satu. Sementara yang tidak lulus, hanya bisa berlapang dada. Tak mau hal itu menghancurkan motivasi. Siapa tahu pada tahap kedua mereka akan lulus.
Dan Hania adalah salah satu siswa yang harus berlapang dada. Berkali-kali, dicarinya nomor urut ujiannya. Tak juga ia temukan. Ia kembali mencari. Siapa tahu matanya kurang awas. Tak melihat nomor ujiannya terpampang di papan pengumuman kelulusan. Tapi ia tak juga menemukannya. Akhirnya, ia menyerah. Memang takdir belum mengizinkannya untuk lulus. Sementara Adriana adalah siswa yang bisa berlega
hati. Ia lulus di fakultas idamannya, SAPPK ITB.
############
Mei. Ujian seleksi masuk ITB kembali diadakan. Dan adegan yang sama kembali terulang. Hania mencari-cari nomor urut ujiannya. Dan ia harus menarik napas dalam-dalam. Ia kembali tak menemukan nomor urutnya.
############
“Argh. Aku nggak bisa begini terus. Dua kali aku nggak lulus USM ITB. Dua kali aku mengecewakan orang tuaku. Aku harus menghilangkan nama Attar dari pikiranku. Dia nggak memikirkanku. Kenapa aku harus memikirkannya? Fokus Hania. Fokus. FTI ITB tujuanku saat ini. Nggak ada yang lain,”.
Oh, akhirnya adikmu melakukan tugasnya dengan baik.
############
“Yee… Kita, kelas akselerasi tahun 2008/2009, seratus persen lulus. Alhamdulillah,”
“Nggak sia-sia kita belajar,”
“Jangan lupa ya kita tetap saling kontak walaupun sudah lulus,”
“Pasti. Nggak mungkin aku melupakan kalian. Kita dua tahun sama-sama. Susah sama-sama. Senang sama-sama. Menghadapi cibiran orang tentang kelas akselerasi kita,”
“Cukup. Sebelum air mataku keluar,”
############
1 Juli. Kesempatan terakhir bagi mereka yang belum mendapatkan PTN yang diinginkan. Dan kali ini Hania dalam keadaan siap. Walaupun saat mengerjakan ujian dia sedang sedikit sakit, tapi itu tak menghalanginya. Beberapa kali ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dan kembali ia berusaha menjawab soal-soal di hadapannya. Ini pertaruhannya.
############
Hania Riva 01057743 Teknik Kimia ITB
Matanya kembali berkaca-kaca. Kali ini bukan kesedihan sebabnya. Ia begitu bahagia. Ternyata kerja kerasnya tak sia-sia. Ia pun segera bersujud. Sujud syukur atas segala yang telah diperolehnya. Hingga beberapa lama terus dalam posisinya. Tapi kali ini punggungnya tak lagi turun naik.
“Hania, kamu ngak apa-apa?”, tanya Adriana yang menemani sahabatnya itu.
Ia mengguncang tubuh Hania. Dan tubuh yang kurus itu rubuh. Ruhnya telah berpisah dari jasad. Tak lagi didengarnya teriakan panik sahabat dan teman-temannya.
“Hania! Hania!”
Takdir telah membawanya berkelana lebih jauh.
############
Namanya Hania. Dan ia tak lagi bernyawa.