Nggak tau kenapa, memori yang paling kuat tentangnya adalah memori saat kelas 6 SD.
Kelas 1, aku belum begitu mengenalnya. Pertama kali ku melihatnya, kupikir ia orang yang sombong. Tapi kuakui, dia cantik. Aku nggak pernah sembarangan lho dalam memuji.
Kelas 2, setelah pergantian kelas, ternyata aku sekelas dengannya. Yah, kita berteman baik.
Kelas 3. Aku dan dia semakin dekat. Dia orang yang sangat asik ternyata. Ngapa-ngapain bareng. Yah, perempuan gimana sih..
Kelas 4. Makin dekat lagi. Yah, mengisi waktu SD bersama. Kesenangan. Untung aku orang yang males cari gara-gara. Jadi notabene nggak terlalu banyak pengalaman berantem.
Kelas 5. Sampai semester satu, tetep deket. Mulai semester 2, kok kayaknya dia mulai menjauh. Aku berpikir. Mungkin dia bosan. Tapi, untung cuma sebentar. Biasa-biasa aja lagi deh.
Kelas 6. Saat-saat yang paling kuingat. Pertama kali, akhirnya pulang jam 2. Kita semua. Aku plus anak seangkatan*cuma 2 kelas*, bisa bersepeda bareng-bareng. Walau pun cuma deket-deket sekolah aja. Orang rumahnya pada deket sekolah. Ganti-gantian naik sepeda. *Walau pun akhirnya tetep pulang jam setengah 4, jadi nggak bisa main bareng-bareng lagi deh*. Oh iya, Sarah juga pindah ke deket sekolah. Dan deket sama rumahku. Aku jadi sering ke rumahnya. Macem-macem lah. Dari yang cuma ngobrol kejadian hari itu, diskusi seru, main-main, yah macem-macem. Oh iya, gara-gara au sering main ke rumahnya, aku jadi suka sama kakaknya. Hhi. Waktu aku ke rumahnya kakaknya kadang-kadang suka nimbrung. Jadi lumayan deket juga sama kakaknya. Kadang-kadang aku berdua Sarah aja. Kadang sama temen-temen yang lain plus kakaknya. Kadang juga bertiga sama Sarah, juga kakaknya.
Lho, kok malah jadi cerita tentang kakaknya?? Ok, back to topic. Aku jadi deket lagi sama Sarah. Hingga akhirnya… Aku masih ingat hari itu sampai sekarang. Hari rabu, hari ketiga UAS praktik. Waktu itu lagi praktik olah raga, badminton. Disuruh bawa raket. Waktu selesai, aku sama temen-temen ngaso. Trus Sarah bilang, “Eh, kok aku nggak bisa liat tulisan di raket ini ya??”. Kataku, “Masa sih Sar? Bukannya mata kamu normal?”. “Aku aja bisa liat,”. “Aduh As, kamu kan pake kaca mata,”. “Oh iya,” kataku malu. Tapi, itu kekonyolan terakhir bersama Sarah. Hari Kamis, aku langsung denger berita, “Sarah masuk rumah sakit!”. Aku pengen ngejenguk, tapi lagi UAS. Udah gitu, aku ke sana sama siapa? Tapi, serius! Sampe sekarang aku masih nyesel kenapa aku nggak ngejenguk dia!! Karena itu kesempatan terakhir ketemu dia.
Dan, beberapa hari setelahnya. Pagi-pagi waktu aku bangun, Mama Elly, tanteku bilang, “Asiah, tadi ada temen kamu ke sini. Katanya ada yang meninggal,”. Aku mikir, siapa yang ke sini? Dan yang lebih penting, siapa yang MENINGGAL?? Waktu aku tanya ciri-cirinya, kok kayaknya mengarah ke temenku Isda. Akhirnya kutelpon Isda,
Aku (A) : Da, tadi kamu ke rumahku?
Isda (I) : Iya
A : Kenapa?
I : Sarah meninggal
A : Innalillahi. Terus, sekarang gimana?
I : Kayaknya bentar lagi jenazahnya dateng.
A : Yaudah, kita bareng temen-temen yang laen ke rumahnya yuk.
Akhirnya, aku dan temen-temenku pergi ke rumahnya. Mobil jenazah datang. Aku lihat semua keluarganya bersedih dan menangis, termasuk kakaknya yang aku sukai. Jenazahnya dibawa ke rumah. Waktu aku dateng ke rumahnya, akhirnya bentengku pecah juga. Aku menangis. Juga teman-temanku. Bukan tangis histeris kok. Tangis yang wajar. Tangisan sedih karena seorang sahabat kami telah berpulang ke rahmatullah.
Tapi ada seorang guru yang menegur kami, “Jangan nangis!”. Dan sejujurnya, sejak saat itu, aku suliiiiittt sekali untuk menangis jika berhubungan dengan kehidupan nyata. Orang-orang di sekitarku. Mungkin karena shock yang kuterima saat ditegur itu. Tapi selain itu juga karena aku tak ingin tangisanku hanya tangis buaya. Tak berarti apa-apa. Lebih baik menangis di dalam hati. Tanpa suara. Tapi penuh dengan perenungan.
Hari berikutnya.
…. : Eh Sarah meninggal kenapa sih?
…. : Meningitis.
…. : Eh, tau nggak sih. Beberapa hari sebelum dia kolaps, dia nyelesein hutangnya bayar uang kas. Waktu ditanya kenapa, dia jawab. “Biar nggak ada hutang lagi kalo aku meninggal nanti,”.
….. : Mungkin dia udah punya firasat ya kalo dia udah mau meninggal
Hari berikut dan berikutnya lagi. Kami mengadakan perpisahan. Tanpa Sarah. Dan, aku juga menulis sebuah surat untuk Sarah di buku tahunan kami.
Sarah sahabatku, aku ingat kamu pernah bilang, “Aku maunya meninggal sebelum hari kiamat. Soalnya, aku pasti nggak sanggup ngadepin hari kiamat,”. Dan keinginanmu menjadi kenyataan Sar. Berbeda dengan kami yang masih belum tau, kapan kematian akan menjemput kami. Tapi kuharap maut itu kan datang padaku sebelum tanda-tanda hari kiamat datang. Sebelum hari kiamat tiba. Dan sang malaikat pencabut nyawa, Izrail mencabut nyawaku dengan baik. Tanpa rasa sakit. Dan aku meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Ah, Sar. Sulit menemukan teman, sahabat sebaik dirimu. Kamu yang tak pernah menasihati secara sok tau. Tapi ketika kamu bicara, sangat menusuk. Langsung masuk ke dalam hatiku. Aku baru menemukannya lagi di sosok Haniva Az Zahra.
Oh, sungguh sulit menemukan teman, sahabat yang baik. Kuharap aku bisa menjaganya ketika aku menemukan sahabat yang baik.
Selamat jalan Sarah. Sahabatku. Terimalah Sarah Novita Khan Maskatie *bahkan aku masih mengingat nama beserta margamu* di sisiMu ya Allah. Berikanlah dia segala yang baik ya Allah.
Uhibbuki fillah Ukhti.. Semoga kamu baik-baik saja di sana
Note : Tak lama kemudian setelah Sarah meninggal, semua keluarganya pindah ke Kalimantan. Dan aku tak bisa berhubungan lagi dengan mereka. Dan dari yang kudengar, kakaknya yang aku sukai lumpuh. Semoga Allah memberikan kesabaran padaMu Kak…
wah kok bisa ya. sabar ya Ash.
Semoga segala amalnya diterima disisiNya amien… aw Udah lama ya meningglanya… Trus kakaknya juga lumpuhh,,, sepertinya da penyakit serius yaa
emang nyesel bgt
lo inget g?
sore sehari sebelum dia pergi, kita udah niat mau jenguk
kalo aja waktu bisa diulang
iya aku inget
kyknya wktu itu kita pgn jenguk breng2
eh, udah keburu ‘pulang’ dia
Semoga Almarhumah teman kita, Sarah Novita Khan dapat diterima amal ibadahnya oleh Allah Swt. Amin.
Aku juga nyesel loh as, waktu itu nggak dateng ke pemakamannya. Iya, ya.. andai aja waktu dapat diulang kembali. :’(
Dan semoga musibah yang terjadi pada keluarganya, dapat diterima dengan ikhlas