Aktif Lagi

8 10 2015

Saya ingin mengaktifkan kembali blog ini. Seudah lama sekali tidak menulis.





Namanya Hania

2 12 2009

Terlihat seorang gadis sedang berjalan. Seorang siswi tahun akhir kelas akselerasi sebuah SMA di Tangerang. Hitam manis. Matanya indah. Alisnya lentik. Bibirnya tipis. Tapi selain wajah dan kedua tangannya, tak ada lekuk dan rupa lain yang bisa dilihat. Rambut indahnya ditutupi jilbab. Lekuk tubuhnya terlindung dari pandangan dengan baju longgar yang cantik. Kaki jenjangnya tersembunyi oleh rok atau celana panjang longgar. Bahkan telapak kakinya tersimpan di balik kaos kaki. Gadis manis itu bernama Hania.

############

Zia, Kak Rasya juga di FTI ITB ya?

Iya. Kenapa Sayang?

Aku juga pengen nyusul dia deh. Seru kayaknya kuliah.

Ayo Nona, kamu pasti bisa. Aku masih setahun lebih lagi untuk kuliah.

Doain aku ya Cantik.

Selalu.

############

Malam ini, ia sedang berbaring di ranjang. Ia bergerak-gerak gelisah. Seperti ada yang mengganggunya. Matanya yang indah berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar. Hati dan pikirannya saling mendebat.

Hei. Jangan masukkan dia ke salah satu ruanganmu.

Jangan salahkan aku. Aku pun tak mau. Ia menyusup tanpa diketahui. Dan tiba-tiba ia sudah memegang kunci salah satu ruanganku.

Bah! Bagaimana aku bisa bekerja dengan seharusnya?

Aku pun tak tahu.

Kamu terus menerus mengirim sinyal kepadaku. Dan aku mau tak mau terus memvisualisasikan dia. Kirimkan pesan pada adikmu, Si Hati Kecil, untuk meyadarkan Hania. Dia sedang menghadapi masa-masa sulit. Dan kita, tentu tak mau melihatnya gagal.

Baik. Akan kucoba.

############

“Woy! Hania, nanti ke LIA kan?”.
“Iya,”.

Di LIA, awalnya semua berjalan seperti biasa. Sampai seseorang muncul.

“Hai Hania,”.

Attar namanya. Dan degupan jantung menjadi semakin kencang.

“Hai Tar,”.

Hei, hei. Kamu. Lagi-lagi kamu mengirimkan sinyal itu. Sekarang saatnya belajar. Aku tak bisa bekerja.

Hm, ada orang itu. Tentunya aku akan terus mengirimimu sinyal selama beberapa jam ke depan.

############

“Hei Hania. Perhatikan kalau Ibu sedang mengajar,”.
“Eh, oh. Maaf Bu. Saya sedang tidak enak badan,”
“Oh, ya sudah. Kamu ke UKS saja,”.
“Nggak Bu. Sebentar lagi juga baikan,”.

Oke, pertama. Dia sampai melamun.

Ya, ya. Dan kedua, dia berbohong pada guru. Hania sedang memikirkan Attar.

Ah, keadaan makin memburuk dari hari ke hari. Bagaimana? Sudah kau sampaikan pesanku untuk adikmu?

Sudah, tapi dia berkata. Akan tiba saat yang tepat. Tunggulah waktunya.

############

“Adriana, aku mau bicara,”
“Apa?”
“Kamu tau siapa yang kusuka?”
“Hah? Siapa? Siapa?”
“Teman sekelas kita di LIA. Attar,”
“Serius?”
“Iya. Kamu pikir aku bercanda? Aku aja malu banget untuk bilang ke kamu”
“Haha. SMA memang masa yang penuh kenangan ya?”
“Adriana, jangan menggodaku,”

############

Catatan harian Hania

Tanpa kumau, dia telah memegang kunci hatiku. Tanpa kutahu, dia telah memasukinya. Tanpa kusadari, dia telah menguasainya. Tapi aku hanya bisa melihatmu. Mendengar suaramu. Aku tak ingin mendekat. Jantungku berdetak semakin kencang. Nafasku menjadi sesak bila di dekatnya.

Sesungguhnya, aku tak mau. Aku tak mau. Aku tahu, ini salah satu masa ujianku. Dan aku tak ingin gagal. Tidak. Aku harus bisa memberi yang terbaik untuk orang tuaku. Menjadi contoh untuk adikku. Tak terbayangkan untukgagal. Senyum di wajah mereka akan memudar. Dan itu bagai belati yang menikamku. Sakit. Aku sakit melihat mereka bersedih.

############

“Hania. Kamu dipanggil Bu Destria di ruang BK,”
“Oh, iya. Terima kasih.”

############

“Hania, kamu sedang ada masaah?”
“Memang kenapa Bu?”
“Ibu lihat nilai kamu menurun. Dan Ibu dapat laporan dari banyak guru kalau kamu suka melamun saat pelajaran. Dan tidak terlihat bersemangat,”
“Maaf Bu,”
“Kamu jangan minta maaf ke Ibu. Ibu hanya ingin yang terbaik bagi siswa-siswa di sini. Kamu siswa aksel. Kamu tahu kan? Tidak ada waktu untuk bermain-main. Nanti, setelah kamu lulus SMA. Sudah diterima di PTN, kamu boleh bermain. Tapi untuk saat ini, tolong fokus dulu untuk belajar. Kamu nggak mau gagal kan?”
“Iya Bu. Terima kasih,”

Mudah untuk berkata. Beliau tak tahu rasanya. Aku juga tak mau. Tapi bagaimana? Dia mengambil alih pikiranku.

Hei, Hati. Mulai lagi.

Ini maunya. Bukan mauku.

Hania, Hania. Kamu pikir dia tak pernah berada di posisimu? Beliau juga pernah remaja. Beliau juga pernah mengalami masa SMA. Tapi dia sekarang sudah menjadi gurumu. Itu bukti bahwa dia sukses menjalani masa-masa ini.

Ya, ya, ya. Mengapa setan selalu saja datang pada saat yang gawat.

############

“Hei Attar. Mau ikut nggak? Kita, satu kelas LIA, besok mau ditraktir sama Adriana. Hari ini dia 17 tahun. Ikut?”
“Boleh nih? Besok lagi nggak ke mana-mana soalnya,”
“Makin ramai, Adriana,”
“Makin ramai, makin seru. Besok ya. Ahad, 14.00,”
“Oke Adriana,”

“Kenapa kamu ajak Attar, Adriana?
“Kenapa? Dia sekelas di LIA sama kita. Kenapa nggak boleh?”
“Oh iya, aku lupa. Kamu suka sama dia ya. Hm, aku sengaja. Biar kamu bisa ketemu di hari lain selain LIA. Hehe,”
“Adrianaaaaa…!”

############

Waktu terlalu cepat berlalu. Tanpa terasa, Maret dan April pun tiba. Maret dan April merupakan bulan khusus bagi semua siswa kelas XII, tak terkecuali Hania. Maret adalah waktu ujian seleksi masuk ITB tahap pertama. Sementara April adalah waktu pengumuman siswa-siswa yang lulus. Bagi yang diterima, tentu mereka akan berlega hati. Beban mereka berkurang satu. Sementara yang tidak lulus, hanya bisa berlapang dada. Tak mau hal itu menghancurkan motivasi. Siapa tahu pada tahap kedua mereka akan lulus.

Dan Hania adalah salah satu siswa yang harus berlapang dada. Berkali-kali, dicarinya nomor urut ujiannya. Tak juga ia temukan. Ia kembali mencari. Siapa tahu matanya kurang awas. Tak melihat nomor ujiannya terpampang di papan pengumuman kelulusan. Tapi ia tak juga menemukannya. Akhirnya, ia menyerah. Memang takdir belum mengizinkannya untuk lulus. Sementara Adriana adalah siswa yang bisa berlega
hati. Ia lulus di fakultas idamannya, SAPPK ITB.

############

Mei. Ujian seleksi masuk ITB kembali diadakan. Dan adegan yang sama kembali terulang. Hania mencari-cari nomor urut ujiannya. Dan ia harus menarik napas dalam-dalam. Ia kembali tak menemukan nomor urutnya.

############

“Argh. Aku nggak bisa begini terus. Dua kali aku nggak lulus USM ITB. Dua kali aku mengecewakan orang tuaku. Aku harus menghilangkan nama Attar dari pikiranku. Dia nggak memikirkanku. Kenapa aku harus memikirkannya? Fokus Hania. Fokus. FTI ITB tujuanku saat ini. Nggak ada yang lain,”.

Oh, akhirnya adikmu melakukan tugasnya dengan baik.

############

“Yee… Kita, kelas akselerasi tahun 2008/2009, seratus persen lulus. Alhamdulillah,”
“Nggak sia-sia kita belajar,”
“Jangan lupa ya kita tetap saling kontak walaupun sudah lulus,”
“Pasti. Nggak mungkin aku melupakan kalian. Kita dua tahun sama-sama. Susah sama-sama. Senang sama-sama. Menghadapi cibiran orang tentang kelas akselerasi kita,”
“Cukup. Sebelum air mataku keluar,”

############

1 Juli. Kesempatan terakhir bagi mereka yang belum mendapatkan PTN yang diinginkan. Dan kali ini Hania dalam keadaan siap. Walaupun saat mengerjakan ujian dia sedang sedikit sakit, tapi itu tak menghalanginya. Beberapa kali ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dan kembali ia berusaha menjawab soal-soal di hadapannya. Ini pertaruhannya.

############

Hania Riva 01057743 Teknik Kimia ITB

Matanya kembali berkaca-kaca. Kali ini bukan kesedihan sebabnya. Ia begitu bahagia. Ternyata kerja kerasnya tak sia-sia. Ia pun segera bersujud. Sujud syukur atas segala yang telah diperolehnya. Hingga beberapa lama terus dalam posisinya. Tapi kali ini punggungnya tak lagi turun naik.

“Hania, kamu ngak apa-apa?”, tanya Adriana yang menemani sahabatnya itu.

Ia mengguncang tubuh Hania. Dan tubuh yang kurus itu rubuh. Ruhnya telah berpisah dari jasad. Tak lagi didengarnya teriakan panik sahabat dan teman-temannya.

“Hania! Hania!”

Takdir telah membawanya berkelana lebih jauh.

############

Namanya Hania. Dan ia tak lagi bernyawa.





Penuaan Dini

9 08 2009

I. Waktu itu, lagi baca Gogirl. Lupa bulan apa. Trus ngeliat rubrik “Rated! Stylish”.

Isi wawancara yang paling aku inget dan pas sama judul :

GG! : Berapa umur kamu sekarang?
Dia : 13 tahun
GG! : Kapan pertama kali kamu dapet inspirasi untuk menjadi orang yang stylish?
Dia : Waktu kelas 6 SD
GG! : Merk favorit?
Dia : Topshop, Zara (pokoknya nyebutin merk impor yang harganya lumayan)

Yang pertama, baru anak kelas 1 SMP, atau malah 6 SD akhir. Waktu aku ngeliat pertama kali, kukira paling nggak di atasku setahun, eh ternyata 4 tahun lebih muda dariku. Dan dia udah make merk-merk yang aneh-aneh. Bukan ngiri. Cuma kayaknya nggak etis aja. Masih SMP udah make yang kayak gitu. Waktu masih jadi beban orang tua. Dan, kalau aku dan temen-temenku bilang, gayanya kayak tante-tante. (Ya, maaf-maaf aja ya dek).

II. Pernah juga blogwalking. Udah nggak jelas dari mana ke mana. Terus nemuin satu fashion blog. Waktu pertama liat, aku kira udah 23-an. Terus dia ngepost “I’m 16 this year”. Hah? Lebih muda dari aku bahkan? Kukira.

Kayaknya aku ngeliat makin banyak terjadi penuaan dini. Bukan dari wajah, yang ada kerut-kerut dan lain-lain. Bukan (walau pun nggak tertutup kemungkinan kalo mereka juga mengalami itu). Tapi dari cara berpakaian, dandanan, cara bersikap. Any comment?





Kesan Pertama Sangat Menggoda. Selanjutnya? *hm. pikir-pikir*

9 08 2009

Waktu lagi baca Cinemags, ngeliat profil orang-orang yang berhubungan dengan film. Tiba-tiba,

“Hah. Cakep banget nih orang. Lucu banget.” *ngeliat foto laki-laki*
Baca ke bawah lagi
“Umurnya 30 tahun”. “Yah, udah tua,”.
Baca lagi
“Ia merasa tertekan dengan kehidupan keluarganya yang agamis. Karena sejak kecil ia merasa lebih tertarik kepada laki-laki,”.
Langsung lemes. “Yah, cakep-cakep homo,”. Beuuhh..

Beberapa hari berikutnya, temenku baca artikel yang sama. Reaksinya,

“Hah. Cakep banget nih orang. Lucu banget.” ngeliat foto laki-laki.
Baca ke bawah lagi
“Umurnya 30 tahun”. “Yah, udah tua,”.
Baca lagi
“Ia merasa tertekan dengan kehidupan keluarganya yang agamis. Karena sejak kecil ia merasa lebih tertarik kepada laki-laki,”.
Langsung lemes. “Yah, cakep-cakep homo,”. Beuuhh..

Persis sama! Udah gitu dia nulis skenario film-film homo lagi. Homo sejati nih.





Hujan

9 08 2009

Aku suka bau hujan
Tadinya
Sebab ia datang dan mencumbu

Dulu aku setia pada hujan
Tapi kini ia sibuk berkawan dengan asap
Bersahabat dengan asam

Hujan itu kekasihku
Harusnya
Tapi kini ia hanya jatuh dan turun
Mengisi comberan-comberan berair hitam
Menggenangi jalan

Hujan itu polos
Lalu manusia mengkhianatinya
Dan apa dayaku
Suatu hari manusia pun akan mengerti
Mengapa aku membenci mereka





Banyak Orang Tidak bisa Dipercaya

26 07 2009

Banyak orang nggak bisa dipercaya. Aku terdengar terlau sinis? Hm, kenyataannya kayak gitu.

“I expect nothing from some people. So I won’t be hurt if there’s nothing”

Yah, zaman sekarang makin banyak orang yang nggak bisa dipercaya. Nggak bisa dipegang omongannya. Apalagi kalo mengenai uang. Orang hanya bisa dinilai kebaikan yang sesungguhnya kalo dia teruji bisa menguasai diri mengenai uang, atau harta apa pun.

Any comment?





Hidup Kayak Sinetron

23 07 2009

Oke, bukan hidupku. Tapi kehidupan yang berjalan di sekitarku. Kok mirip sinetron ya??

Pernah adeknya dibawa sama khadimat, mau dijual? Untung cepet ketahuan. Aku sendiri nggak tahu persis. Aku udah SD sih. Tapi pulang sore. Sementara kejadiannya siang. Pernah juga adekku hampir ilang. Katanya sih kayak diajak orang gitu, ada suara-suara. (Kalo yang ini kayak sinetron mistis). Untung cepet ditemuin sama tukang ojek.

Adekku pernah ngeliat dukun beraksi. Kata adekku, rambutnya berdiri-diri. Tubuh hitam, banyak kemenyan. Berasep-asep (sinetron mistis lagi).

Yang masih lumayan baru, (nggak baru-baru banget sih) ngeliat mobil keguling di jalan tol Merak. 2 kali. Debu-debu beterbangan. Asli, dramatis banget. Dari kebalik sampe akhirnya ke posisi semula. Pertma-tama abi bilang, “Allahu akbar. Allahu akbar”. Aku bingung kenapa. Waktu aku liat, ya ampun itu kok kayak di film-film atau sinetron ya? Waktu udah balik ke posisi normal, mobil itu melintang di jalan. Ada kuning-kuning di bawah, tiba-tiba berdiri. Ya ampun, itu anak kecil. Terus kayaknya ada orang lagi deh. Dan ada ibu-ibu meninggal. Aku nggak boleh keluar mobil, jadi nggak liat deh.

Terus, yang baru banget, kayaknya baru 2 hari yang lalu. Tukang-tukang pada mogok kerja. Ada yang ngomporin. Katanya gajinya nggak dikasih. Padahal sih dikasih, cuma gara-gara dia mau pulang kampung (padahal tadinya dia bilang nggak bakal pulang sementara lagi banyak order) gajinya ditahan sebagian sampe 2-3 hari, waktu udah selese. Dia ngomporin orang lain, terus mau ngambil mesin jahit di rumah. Hm, nggak berasa sih kalo cuma diceritain lewat blog doang. Tapi kalo kamu ada di rumahku, pasti ngerasain tegangnya. Aku sih biasa aja. Tapi ada orang yang tegang. Kan berasa. Waktu cerita ke temenku, katanya, “Ya ampun As. Sinetron abis,”.

Kayaknya masih ada lagi deh. Cuma nggak keinget waktu lagi nulis ini.